Gelar Pahlawan bagi Pak Harto
Setelah mangkatnya Bapak HM.Soeharto pada 27 Januari 2008 ternyata belum menuntaskan polemik yang terjadi dengan sosok Presiden RI ke 2 ini. Setelah 86 tahun hidup, berkarya, dan akhirnya meninggal karena sakit yang diderita, ternyata belum cukup mensudahi sejarah beliau.
Perkara perdata yang (menurut hukum) diwariskan kepada ahli warisnya akan membawa babak baru dalam kepastian hukum permasalahan ini. Namun (kalo tidak salah) perkara tersebut akan mentah jika ahli waris tidak berkehendak melanjutkan kasus ini atau (kalo tidak salah lagi) setiap kasus hukum akan gugur ketika sang terdakwa meninggal dunia—saya kurang paham dengan hal ini. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan kasus ini. Pribadi saya punya keyakinan ahli waris beliau bisa berjiwa besar seperti Sang Jenderal dan apa yang menjadi hak negara dapat diserahkan untuk pembangunan (seperti yang telah dilakukan selama 32 tahun masa kepemimpinannya).
Lahir di Kemusuk, Jogjakarta dan sempat dibesarkan di daerah Wonogiri, Pak Harto dibesarkan dalam keluarga petani sederhana. Pendidikan yang ditempuh hingga setingkat SMP dan dilanjutkan terjun dalam dunia militer untuk memenuhi harapan orang tuanya saat itu. Kiprahnya mulai mencuat ketika Pak harto terlibat dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih, keterlibatan dalam peristiwa 30 September – 1 Oktober 1965, hingga yang masih jadi pertanyaan bagi sebagian orang adalah keberadaan Surat Perintah 11 Maret 1966.
Bicara dari sisi lain, jangan lupa dengan 32 tahun kepemimpinannya. Sebagai pemimpin Negara Pak Harto cukup mendapat simpati dari masyarakat Indonesia bahkan sorotan luar negeri. Dengan kabinet pembangunannya, Pak Harto memimpin Indonesia dengan PELITA-nya yang dititikberatkan pada sektor pertanian. Keberhasilannya ditunjukkan dengan membawa Indonesia mencapai sawa sembada beras di tahun 1984 serta sekaligus mendapat penghargaan dari PBB. Swa sembada beras memberikan manfaat bagi kesejahteraan petani serta menjadikan Indonesia sebagai pengekspor beras. Keberhasilan lain adalah dicanangkannya program Keluarga Berencana. Melalui program ini Indonesia mampu menekan angka pertumbuhan penduduk dari 3% menjadi 1.9% per tahun serta penganugerahan penghargaan dari Badan Populasi Dunia atas jasa beliau tersebut. Mungkin itu hanya contoh kecil yang popular di kalangan seperti saya ini. Namun apakah saya tahu ketika beliau merupakan Jenderal Bintang Lima di negeri ini. Ya, beliau adalah 1 dari 3 orang yang mendapatkan penghargaan tersebut. 2 yang lain adalah Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Jenderal Ahmad Yani. Sudah kita ketahui keduanya adalah pahlawan nasional yang telah melukiskan sejarah bagi Indonesia.
Nah, pertanyaan yang muncul adalah apakah Bapak HM.Soeharto pantas mendapat gelar pahlawan seperti halnya 2 Jenderal Bintang Lima tersebut. Jawabannya ada pada diri anda sendiri.
Secara pribadi orang selalu ingin memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara, begitu juga Pak Harto. Beliau (mungkin) tidak pernah berpikir akan mendapatkan gelar pahlawan dari masyarakat Indonesia. Yang perlu kita lakukan adalah tengoklah sejarah beliau. Nama Pak Harto mungkin pernah diklaim sebagai kepala negara yang (maaf) korup oleh dunia internasional, namun nama Pak Harto juga tidak kalah harum membawa Indonesia di kancah internasional. Jika dunia internasional memberikan berbagai penghargaan kepada beliau atas jasanya di mata dunia, kenapa kita sebagai anak bangsa tidak mau melakukan hal serupa—memberi penghargaan yang pantas bagi beliau. (dhe)
Kalo saya pribadi, memang akan menganggap Pak Harto mantan Presiden RI ke 2 sebagai Pahlawan Bangsa, setelah para Pahlawan Revolusi.
Banyak jasa beliau yang sangat besar. Tapi, ya seperti peribahasa, “panas setahun, dihapus oleh hujan sehari”.
Jasa puluhan tahun, hanya terhapus oleh masalah korupsi yang sampai sekarang nggak jelas ujung-pangkalnya.
Pak Harto selalu merencanakan masa depan bangsa dan negara lewat Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun).
Tapi lihat pemerintahan setelah Pak Harto, kok sepertinya “spontanitas” aja, nggak pernah ada rencana apapun, yang harusnya diketahui oleh rakyat Indonesia. Lha kan repot, bangsa dan negara kok nggak dibuatkan rencana masa depannya.
Bisnis aja pakai rencana, kok negara nggak buat rencana sih?!
Salam,
Wuryanano