Jika (di) Jalan Raya Menjadi Hambatan 2
Menyambung tulisan JIKA (di) JALAN RAYA MENJADI HAMBATAN berikut ini informasi tambahan yang dikutip dari KOMPAS Minggu, 30 Maret 2008 yang terkait (lagi-lagi) jalan.
Di halaman dalam KEHIDUPAN memuat Musuh-musuh Jalan Raya mengurai sedikit sebab kenapa jalan raya di Indonesia banyak mengalami kerusakan.
Sehebat-hebatnya konstruksi jalan yang dibangun di dunia ini tetap memiliki dua batasan utama, yakni beban yang melewatinya dan umur pakai, ungkap Ade Sjafruddin PhD, pakar rekayasa transportasi dari ITB. Lain halnya dengan yang disampaikan Ketua Umum Masayarakat Transportasi Indonesia (MTI) Dr Ir Bambang Susantono, tiga faktor utama yang menyebabkan kerusakan jalan adalah mutu pelaksanaan konstruksi jalan, kondisi drainase permukaan jalan dan daerah sekitarnya, dan kelebihan beban pemakai jalan.
Mengacu faktor-faktor di atas, apakah Anda berperan sebagai salah satu dari Musuh-musuh Jalan Raya (“perusak jalan”)? Anda dapat memperoleh sedikit gambarannya di JIKA (di) JALAN RAYA MENJADI HAMBATAN.
Di halaman depan tertulis Jalan Menuju “Pemiskinan”
Fenomena jalan rusak, yang mendera Jakarta dan banyak kawasan lain di Indonesia belakangan ini, tak melulu mengisahkan soal permukaan jalan raya yang berlubang-lubang saja. Kerusakan infrastruktur penting itu akhirnya juga bisa membuka “jalan” untuk mengantarkan masyarakat pada proses pemiskinan.
Sebenarnya kerugian apa saja yang ditanggung masyarakat akibat infrastruktur yang berantakan ini?
-
Jalan rusak jelas memicu kemacetan lalu lintas. Kemacetan mengganggu mobilitas sosial ekonomi serta mendorong in-efisiensi yang luar biasa.
-
Para sopir lebih menderita jika onderdil mobil rusak akibat menggasak lubang.
-
Jalan yang jelek membuat waktu tempuh jadi molor.
-
Pemakai jalan tewas akibat kecelakaan yang dipicu jalan rusak.
Menurut pengamat ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Pande Raja Silalahi, semua kerugian akibat jalan rusak itu merupakan proses pemiskinan masyarakat.
Jadi, apa maukah Anda jadi masyarakat yang rugi dan miskin? Jika tidak, mari kita bersama-sama introspeksi agar tidak menjadi bagian dari Musuh-musuh Jalan Raya.
Di kolom lain ditulis dengan Kita Bisa Jadi Bangsa Terbelakang.
Jika transportasi tersendat, biaya perjalanan jadi tinggi. Ini melemahkan harga di tingkat produsen sekaligus meningkatkan harga di tingkat konsumen. Infrastruktur yang jelek di pedesaan, misalnya, jelas mempersulit petani memasarkan produk pertanian. Jika terhambat produk musiman itu bisa membusuk, harganya jatuh, dan akhirnya petani rugi.
Situasi ini juga melemahkan daya saing untuk pasar mancanegara. Studi LPEM UI menunjukkan, biaya logistik—segala sesuatu yang harus dibayar dari pabrik sampai pelabuhan, termasuk transportasi—di Indonesia mencapai 14 persen dari total biaya produksi. Itu terlalu tinggi, untuk bandingan, biaya logistik di Jepang kurang dari 5 persen dari total biaya produksi.
Menurut ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Fadhil Hasan, jika situasi itu berlanjut, ekspor Indonesia akan mandeg, pertumbuhan ekonomi jalan di tempat, dan negara ini tak menarik untuk investasi. Akibat kelanjutannya, bangsa ini terancam jadi terbelakang di tengah kompetisi ekonomi dunia yang makin ketat.
Jadi, siapa yang bertanggung jawab jika Kita Bisa Jadi Bangsa Terbelakang? Jawabannya adalah bangsa ini sendiri. Sebagai pengguna jalan, kita berperan untuk mematuhi peraturan lalu lintas, menggunakan kendaraan tanpa melebihi kapasitas atau muatan, atau menggunakan kendaraan pribadi seefisien mungkin. Sedangkan pemerintah bertanggung jawab atas penyediaan dan perbaikan infrastruktur yang memadai. Sehingga jalan raya bukan menjadi hambatan, melainkan pendukung bagi majunya suatu bangsa. Setuju?